Jumat, 27 April 2018

PENGELOLAAN LABORATURIUM


BASIC LABORATORY SKILLS ( PELAKSANAAN)
Laboratorium adalah tempat belajar mengajar melalui metode pratikum yang dapat menghasilkan pengalaman belajar di mana siswa berinteraksi dengan berbagai alat dan bahan untuk mengobservasi gejala-gejala yang dapat diamati secara langsung dan dapat membuktikan sendiri sesuatu yang dipelajari.
A.     Pelaksanaan Praktikum
Kita melaksanakan semua kegiatan yang telah direncanakan secara bertahap, satu persatu sesuai dengan jadwal yang telah disusun pada tahap persiapan. Siswa harus memeiliki keterampilan dasar saat saat pelaksanaan praktikum yaitu :
1.        Pada saat pelaksanaan nya siswa telah Menggunakan kelengkapan yang wajib dalam praktikum (seperti jas lab, masker, sarung tangan, sepatu ket, dan sebagainya).
2.        Dapat menggunakan alat-alat dan bahan praktikum yang dilakukan
Kegiatan yang dilakukan di laboratorium selalu menggunakan alat-alat untuk mempermudah kegiatan tersebut. Alat adalah suatu benda yang digunakan dalam melakukan kegiatan praktikum, eksperimen, dan penelitian. Alat-alat laboratorium memiliki bentuk yang khas dan unik dengan fungsi yang berbeda-beda. Dan siswa harus dapat menggunakan alat-alat yang akan digunakan pada saat praktikum sesuai dengan topik yang akan dipraktikumkan

Dari pembahasan ini saya akan memaparkan salah satu pelaksanaan Praktikum
PRAKTIKUM PEMBEDAHAN KATAK

BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
        Anatomi hewan adalah ilmu yang mempelajari tentang bagian-bagian organ tubuh hewan beserta fungsinya dalam pengamatan anatomi hewan, diperlukan adanya pembedahan untuk mengetahui lebih jelas sisten organ pada hewan, khususnya organ sistem pencernaan dan organ sistem pernafasan secara langsung. Hewan yang dijadikan objek penelitian atau pengamatan adalah katak sawah (Rana cancarivora) yang termasuk dalam kelas amfibi karena dapat hidup di darat dan di air. Katak sawah (Rana cancarivora) memiliki sistem pencernaan yang terdiri dari saluran pencernaan dan kelenjar pencernaan. Pada sistem pernafasan tersusun atas celah glottis, laring, bronchus, bronkeolus, alveolus dan alveoli.
        Katak adalah satu anggota dari classic Amphibia. Amphibia berasal dari kata amphi artinya rangkap dan bios artinya kehidupan, karena Amphibia ialah hewan yang hidup dengan dua bentuk kehidupan, mula-mula di dalam air tawar kemudian di darat. Kulit halus selalu basah apabila hewan berada di luar air untuk meyakinkan terjadinya pernafasan melalui kulit. Kulit dilengkapi dengan kelenjar-kelenjar yang menghasilkan lendir untuk mempertahankan keadaan agar selalu basah.
B.       Tujuan
        Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam praktikum ini adalah untuk mengetahui bentuk, warna, dan lokasi serta hubungan dengan organ lain pada suatu sitem organ.
C.      Manfaat
        Adapun manfaat dari kegiatan ini adalah kita dapat mengetahui bentuk, warna dan letak organ serta hubungannya dengan organ lain pada katak suatu sistem organ.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

   Amphibi merupakan kelompok hewan dengan fase daur hidup yang berlangsung di air dan di darat. Amphibi mempunyai kulit yang selalu basah dan berkelenjar, berjari 4-5 atau lebih sedikit, tidak bersirip. Mata mempunyai kelopak yang dapat digerakkan, mata juga mempunyai selaput yang menutupi mata pada saat berada dalam air. Pada mulut terdapat gigi dan lidah yang dapat diulurkan. Pada saat masih kecil (berudu) bernafas dengan insang. Setelah dewasa bernafas dengan menggunakan paru-paru dan kulit. Suhu tubuh berubah-ubah sesuai dengan keadaan lingkungan.
   Katak memiliki sepasang paru-paru berupa kantung elastis yang tipis. Mekanisme pernafasan paru-paru terdiri dari inspirasi dan ekspirasi. Keduanya dengan mulut tertutup. Katak memiliki tulang-tulang rusuk dan rongga badan.
Saluran pencernaan dan kelenjar pencernaan. Saluran pencernaan katak secara berturut-turut adalah rongga mulut, faring, kerongkongan, lambung, usus 12 jari, usus halus, usus besar, dan kloaka. Kelenjar pencernaan katak meliputi hati, kantung empedu, dan pankreas. Sistem pencernaan dimulai dari mulut yang memiliki gigi sejati. Lidah katak dapat untuk menangkap makanan atau mangsa seperti serangga. Saluran pencernaan mulai dari esophagus yang sangat pendek, terdiri dari kontraksi yang kecil, tepinya bersilia dan sebagai alat cerna yaitu sel-sel secretoris, kemudian ke usus 12 jari dan usus halus yang berkelok-kelok dan selanjutnya ke usus besar yang lebar. Setelah usus besar langsung menuju ke kloaka, yaitu tempat lubang pelepasan (Kastowo, 1984).
   Sistem peredaran darah pada katak adalah peredaran darah tertutup dan ganda. Pada peredaran darah ganda, darah melalui jantung sebanyak dua kali dalam sekali peredarannya. Pertama darah dari jantung menuju ke paru-paru dan kembali ke jantung, kedua darah dari seluruh tubuh menuju jantungdan di edarkan kembali keseluruh tubuh. Jantung katak terdiri dari tiga ruang yaitu atrium kiri, kanan dan ventrikel. Diantaranya atrium dan ventrikel terhadap klep yang mencegah agar darah dari ventrikel mengalir kembali ke atrium (Kimball, 1991).
   Kulit katak memiliki kelenjar yang dapat mengeluarkan lendir yang licin. Warna kulit katak dapat berubah sesuai dengan cahaya yang ditangkap oleh tubuh untuk dapat berubah. Perubahan warna kulit pada katak dilakukan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dan untuk melindungi diri dari perhatian hewan pemangsa, kulit katak juga berfungsi dalam pertukaran gas (Iskandar, 1998).



BAB III
METODE PRAKTIKUM

A.      Waktu dan Tempat
        Adapun waktu dan tempat dilaksanakannya praktikum ini adalah sebagai berikut:
Hari/ Tanggal       : Senin, 16 April 2018
Pukul                    : 14.00 – 16.00
Tempat                 : Laboraturium UIN STS Jambi

B.       Alat dan Bahan
1.      Alat
   Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah botol pembius, baki bedah, 1 set alat beda (gunting, pisau/skalpel pinset, sedotan limun dan jarum).


2.      Bahan
Adapun bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah katak (Rana cancarivora), kapas, kloroform.




C .      Prosedur kerja
Adapun prosedur kerja dari praktikum ini adalah sebagai berikut:
1 . Pengamatan Morfologi
a.       Mematikan katak: mengambil segenggam kapas, membasahi dengan eter/kloroform, lalu memasukkan ke dalam botol pembius, kemudian memasukkan katak dengan segera ke dalam botol tersebut, menutup rapat dan membiarkan hingga katak tersebut mati, dan cloroform diberi 70 % agar kondisi katak tetap baik dan tidak menggelembung.

b.      Pengamatan: mengeluarkan katak kemudian meletakkan di atas kaki bedah (membiarkan kapas dalam botol dan menutup rapat karena uapnya berbahaya). Mengamati bagian luar katak:


1)        Mata kelopak dan selaput tidur
2)        Lubang hidung luar
3)        Membran tymphani
4)        Alat gerak depan dan belakang
5)        Permukaan kulit
2.      Pengamatan anatomi
a.       Dengan arahan dari dosen atau asisten, melakukan pembedahan dengan hati-hati di atas baki beda.
b.      Mengamati letak semua organ dalam pada katak.
c.       Memasukkan dan meniup secara perlahan sedotan limun ke rongga mulut katak untuk mengamati paru-paru.
d.      Mengamati seluruh organ dan menggambar sesuai sistem organ yang disusun.



Adapun Vidio Simulasi Praktikum Pembedahan Katak



BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A.      Hasil Pengamatan



B.       Pembahasan
Praktikum kali ini mengunakan katak sawah (Fejervarya cancrivora) yang termasuk dalam kingdom Animalia, phylum Chordata, subphylum Vertebrata, class Amphibia, ordo Anura, family Ranidae, genus Fejervarya. Katak sawah (Fejervarya cancrivora) terdiri dari empat bagian yaitu caput, truncus, extremitas anterior danextremitas posterior. Caput berbentuk segi tiga  dan memiliki beberapa organ yaitucavum oris, organon visus, membran tymphani dan nares externa. Cavum orisberukuran lebar dan tidak berada diujung kepala, tetapi sedikit ke bawah. Cavum orismembelah secara horizontal hampir keseluruh bagian kepala. Nares externa berukuran kecil, membran tymphani berbentuk cincin berwarna coklat kehitam-hitaman (Pujaningsih, 2007).
Truncus pendek dan kompak, memipih pada bagian distal yaitu daerah yang menempati vertebrae sacrales. Lubang cloaca terletak terminal. Extremitas anteriorpendek tetapi bagian-bagian dapat dikenal, karena adanya 4 buah jari disetiap bagiannya. Extremitas posterior lebih panjang  dengan 5 buah jari yang disela-selanya terdapat selaput renang (web) yang membantu katak berenang. Extremitas posteriorterdiri dari femur, crus, dan pes. Kulit katak dilengkapi dengan kelenjar-kelenjar yang menghasilkan lendir pada epidermis dan salurannya bermuara dipermukaan kulit (Pujaningsih, 2007).
Katak sawah memiliki mekanisme pertahanan diri dalam melawan berbagai mikroorganisme patogen tersebut yaitu dengan sekresi lendir pada permukaan kulitnya. Ekstrak lendir kulit katak mengandung substansi antifungi yang mampu menghambat pertumbuhan Candida albicansMycosporum gypseum danTrychophyton mentagrophytes. Pemanfaatan bakteri indigenous katak sawah lokal sebagai biofungisida merupakan inovasi baru karenabelum secara maksimal dikaji. Pemanfaatan katak hanya untuk dikonsumsi karena dagingnya kaya protein (Susilawati, 2013).
Sistem pencernaan pada katak terdiri atas rongga mulut (cavum oris), pharynk, oesophagus, gastrum, duodenum, intestine, colon, dan cloaca. Bangunan-bangunan yang berada di dalam cavum oris ialah dentis dan linguaCavum oris sebelah anterior berpangkal lingua dengan ujung yang bebas di sebelah posterior. Ujungnya berlekuk sehingga tampak bercabang dan oleh karena itu disebut bifidaLingua dapat dijulurkan keluar dengan cepat yang berfungsi untuk menangkap dan memasukkan mangsanya ke dalam mulut (Radiopoetro, 1977).
Sistem reproduksi pada vertebrata umumnya sama, tetapi karena tempat hidup, perkembangan anatomi dan cara hidup yang berbeda menyebabkan adanya perbedaan pada proses fertilisasi. Sistem reproduksi pada katak jantan terdiri atas testis, vassa efferentia, vesica seminalis, corpus adiposum yang merupakan bahan cadangan makanan yang digunakan pada musim perkawinan. Katak jantan mempunyai sepasang testis (bentuknya oval, warnanya keputih-putihan) terletak di sebelah atas ginjal. Testis diikat oleh alat penggantungnya yang disebut mesorchium. Testis terdapat saluran yang disebut vassa efferentia yang bermuara di cloaca. Bagian ureter yang dekat cloacamengalami pembesaran yang disebut vesica seminalis yang berfungsi untuk penampungan sementara spermatozoa (Zug,1993).
Saluran reproduksi pada katak betina berawal dari ovarium yang mengalir melalui oviduct. Oviduct merupakan suatu saluran yang menjulur dari bagian anterior rongga tubuh menuju bagian posterior tepatnya pada cloaca. Oviduct mempunyai sel kelenjar yang menyekresikan lapisan lunak disekitar telur, dan pada bagian posteriornya melebar untuk penampungan telur sementara tetapi selain itu oviducttidak mengalami pencirian khusus. Katak melakukan proses reproduksi di dalam air, sedangkan fertilisasi terjadi di luar tubuh katak betina (eksternal). Katak betina yang sedang hamil namun tidak ada katak jantan yang mengawininya maka telur akan disimpan di dalam tubuh (Susanto, 1994).
Organ reproduksi katak betina terdiri atas sepasang ovarium yang terdapat pada bagian belakang rongga tubuh diikat oleh penggantungnya yang disebut mesovarium. Katak betina ketika musim kawin pada ovarium terpadat, ovum yang masak akan menuju ke saluran yang disebut oviduct. Bagian posterior oviduct membesar membentuk uterus. Selanjutnya telur dikeluarkan melalui cloaca keluar dari tubuh. Katak sendiri terjadi fertilisasi eksternal (pembuahan di luar tubuh) dan pada musim kawin terjadi isyarat kawin oleh katak jantan dan katak betina. Perkawinan dilakukan dengan cara katak jantan menempel di atas punggung katak betina, lalu keduanya menyemprotkan sel–sel gametnya ke luar tubuh (Zug, 1993).
Organ utama sekresi pada katak yaitu ginjal dan organ yang lainnya terdiri atas kandung kemih, ureter dan ginjal. Ginjal amphibi sama dengan ginjal ikan air tawar yaitu berfungsi untuk mengeluarkan air yang berlebih. Karena kulit katak permeabel terhadap air, maka pada saat ia berada di air, banyak air masuk ke tubuh katak secara osmosis. Katak yang berada di darat harus melakukan konservasi air dan tidak membuangnya. Katak menyesuaikan dirinya terhadap kandungan air sesuai dengan lingkungannya dengan cara mengatur laju filtrasi yang dilakukan oleh glomerulus, sistem portal renal berfungsi untuk membuang bahan – bahan yang diserap kembali oleh tubuh selama masa aliran darah melalui glomerulus dibatasi. Kantong urin merupakan derivat ektodermal dari cloaca. Ureter pada katak bermuara pada cloacadan urin dari sini akan diserap kembali ke dalam kantong urin (Villee & Barries,1988).
Tubuh katak dan vertebrata lainnya mengandung tiga macam otot daging, yaitu otot daging berserat halus, otot daging jantung, dan otot daging berserat melintang. Perbedaan itu berdasarkan susunan secara mikroskopis dan fisiologis. Otot daging sebelah luar terdiri atas otot daging skeletal atau otot daging bebas yang melekat pada tulang-tulang. Otot daging tersebut dikendalikan oleh kemauan pada geraknya. Masing-masing otot daging itu terdiri  atas serat-serat yang satu sama lain digabung oleh jaringan ikat. Kedua ujung biasanya melekat pada tulang yang berlainan. Bagian sentral yang sedikit bergerak disebut origin sedang bagian distal merupakan bagian yang banyak bergerak disebut insertion. Banyak otot daging yang memiliki perluasan dengan jaringan ikat sehingga dapat membungkus sebelah ujung tulang yang disebuttendon (Jasin, 1989).
Sistem otot pada katak dibagi menjadi empat bagian, yaitu sistem otot pada bagian kepala, sistem otot daerah pectoral, sistem otot daerah abdomen atau ventral dan sistem otot pada extremitas posterior. Hasil dari pengamatan yang didapat adalah bahwa sistem otot daerah abdomen atau ventral dari katak sawah (Fejervarya cancrivora) terdiri dari musculus rectus abdominis, musculus obliqus externus danmusculus obliqus internusMusculus rectus abdominis terdapat medio ventral tubuh yang ditengahnya terdapat tendo berwarna putih yang disebut linea alba dan juga terdapat inscriptio tendinae yang berjumlah empat pasang (Moment, 1967).
Sistem otot pada extremitas posterior dari katak sawah (Fejervarya cancrivora) terdiri dari dua bagian yaitu pada bagian femur (paha) dan crus (betis). Pada bagian femur dapat dikenali otot dari arah lateral ke medial antara lain :muscullus trisep femoris, muscullus sartorius, muscullus adductor magnus, muscullus gracillis mayor dan muscullus gracillis minor. Otot yang membangun bagian dari betis katak sawah antara lain muscullus gastronimeus, muscullus tibialis anticus longus, muscullus tibialis anticus brevis dan muscullus tibialis posticus (Moment 1967)

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. Anatomi Katakhttp://www.blogspot.com (diakses 25 april 2018).
Pecell. Anatomi Tubuh Amphibiahttp://pecell.blogspot.com  (diakses 25 April 2018).


Dari Artikel tersebut ada beberapa rumusan masalah
1.      Bagaimana pelaksanaan praktikum yang baik ?
2.      Apabila dalam pelaksanaan praktikum, pada saat itu anda belum mepersiapkan persiapan untuk praktikum, apa masih bisa praktikum dilaksanakan dan bagaimana dampaknya? jelaskan !
3.      Disaat siswa akan melaksanakan praktikum tetapi siswa tidak memiliki pengetahuan tentang yang akan dipraktikumkan, apakah siswa tersebut bisa melaksanakan praktikum ? dan apa dampaknya !


Kamis, 19 April 2018

PENGELOLAAN LABORATORIUM IPA


PEMUSNAHAN ALAT LABORATORIUM TIDAK TERPAKAI

Tujuan penanganan limbah adalah untuk mengurangi resiko pemaparan limbah terhadap kuman yang menimbulkan penyakit (patogen) yang mungkin berada dalam limbah tersebut. Limbah cair laboratorium dapat berasal dari sisa – sisa sampel, sisa pelarut, dan bekas cucian alat-alat gelas. Karakteristik limbah cair laboratorium tersebut, karena sifat, konsentrasi dan kuantitasnya, maka dapat dikategorikan sebagai limbah cair bahan berbahaya dan beracun (B3). Limbah B3 tersebut apabila tidak dikelola dengan benar, dapat mencemari dan merusak lingkungan hidup, serta membahayakan kesehatan dan kelangsungan makhluk hidup.

Laboratorium yang baik adalah laboratorium yang tidak hanya memperhatikan masalah ketelitian analisa saja. Akan tetapi laboratorium yang baik juga harus memperhatikan masalah pembuangan limbah. Limbah yang dibuang sembarangan, jika masuk ke badan air, tanah dan mengalir ke pemukiman penduduk akan menimbulkan bahaya. Terutama logam-logam berat. Jika tidak ditangani dengan baik dapat membahayakan makhluk hidup dan merusak lingkungan.

Peralatan laboratorium dapat dikelompokkan menjadi 2, yaitu:
1.                  Peralatan consumable adalah peralatan laboratorium yang digunakan sekali pakai rusak atau dibuang atau dapat juga sekali pakai pecah atau mudah pecah. Yang termasuk peralatan ini adalah alat gelas, pipa gelas, pipa karet, kertas saring, kertas kromatografi, dll.
2.                  Peralatan non-consumable adalah peralatan laboratorium yang dapat digunakan terus-menerus dan bukan sekali pakai. Yang termasuk peralatan ini adalah pembakar gas, mikroskop, peralatan elektronik, dll. Sebaiknya mikroskop dan peralatan elektronik disimpan terpisah.

Alat yang telah rusak dan tidak dapat dipakai lagi di data kemudian dipisahkan alat gelas dan alat non gelas. Alat non gelas di dimusnahkan dengan cara dibakar. Alat gelas dimusnahkan dengan cara ditimbun atau dikubur di dalam tanah. Secara umum, metode pembuangan limbah laboratorium terbagi atas empat metoda.
1.                  Pembuangan langsung dari laboratorium
Metode pembuangan langsung ini dapat diterapkan untuk bahan-bahan yang dapat tidak berbahaya seperti specimen tumbuhan. Bahan-bahan yang dapat larut dalam air dibuang langsung melalui bak pembuangan limbah laboratorium.
2.                  Pembakaran terbuka
Metode pembakaran terbuka dapat dterapkan untuk bahan-bahan organik yang kadar racunnya rendah dan tidak terlalu berbahaya. Bahan-bahan organik tersebut dibakar ditempat yang aman dan jauh dari pemukiman penduduk.
3.                  Pembakaran dalam insenerator
Metode pembakaran dalam insenerator dapat diterapkan untuk bahan-bahan toksik yang jika dibakar ditempat terbuka akan menghasilkan senyawa-senyawa yang bersifat toksik.
4.                  Dikubur di dalam tanah
Dengan perlindungan tertentu agar tidak merembes ke badan air. Metode ini dapat diterapkan untuk zat-zat padat yang reaktif dan beracun.

Contoh Pemusnahan Alat
1.      Alat non gelas

Dimusnahkan dengan cara dibakar.
2.      Alat gelas

Dimusnahkan dengan cara ditimbun atau ditanam.


PEMUSNAHAN  ALAT YANG TIDAK TERPAKAI
PRAKTIKUM PENGAWETAN VERTEBRATA “AVES “


Alat dan bahan yang digunakan :
Alat
Bahan
Sarung tangan
Formalin 4%
Masker
Alkohol 70%
Toples
Kapas
Ember
Alat bedah
Papan bedah
Jarum jahit dan benang
Jarum suntik

            Sampah pada dasarnya merupakan suatu bahan yang terbuang atau di buang dari suatu sumber hasil aktivitas manusia maupun proses-proses alam yang tidak mempunyai nilai ekonomi, bahkan dapat mempunyai nilai ekonomi yang negatif karena dalam penanganannya baik untuk membuang atau membersihkannya memerlukan biaya yang cukup besar.

Pembuangan sampah harus dilakukan secara terpisah, antara satu jenis sampah dengan jenis lainnya. Pemisahan sampah dilakukan dengan cara memisahkan  antara limbah padat medis dan non medis, seluruh limbah padat di tempatkan pada satu kantong yang berbeda misalnya sampah medis (jarum, silet, mata pisau, dan sebagainya)  kantong berwarna kuning sedangkan sampah non medis ( kapas, kertas, masker, dam sebagainya)  ditempatkan pada kantong berwarna hitam.

Sampah medis padat atau non medis diangkut oleh petugas Dinas Kebersihan,  sedangkan limbah padat medis diletakkan didepan insenerator yang kemudian langsung di bakar setelah semua limbah padat medis terkumpul. Adapun vidio dari insenerator sebagai berikut :


Dalam praktikum kita juga menggunakan alat atau pun bahan medis atau pun non medis, jadi pengelolaan alat dan reagen yang tidak bisa digunakan lagi, pembuanganya harus diperhatikan.
Setelah praktikum selesai alat dan bahan yang sudah dipakai tentunya akan di besih kan atau pun dibuang sebagai mana mestinya tentunya ada alat atau bahan yang hanya satu kali pakai saja,  Dibawah ini adalah alat dan bahan yang harus di musnahkan setelah praktikum  pengawetan vertebrata :
Pertama sesuai petunjuk diatas, kita harus melakukan pemisahan anatara peralatan atau pun alat medis atau pun non medis, karena penanganannya berbeda-beda, diantaranya:
1.       Sarung tangan yang digunakan saat melakukan praktikum  harus dibuang untuk menjaga penseterilan atau pun kebersihan saat melakukan kegiatan setelah praktikum. Sarung tangan ini termasuk sampah non medis, jadi bisa dimasukkan dalam kantong plastic untuk dibuang kedalam tong sampah, sebelum dibuang ketempat pembuangan akhir atau diambil oleh petugas kebersihan.

         

2.      Masker yang digunakan juga harus dibuang saat keluar dari ruangan laboratorium, untuk menjaga kesehatan. Masker sama halnya dengan sarung tangan yaitu limbah non medis,  bisa langsung dibuang kedalam tong sampah, untuk penanganan selanjutnya.




3.      Kapas juga harus dibuang, sama halnya dengan sarung tangan  dan masker limbah non medis, juga bisa langsung dibuang kedalam tong sampah, untuk penanganan selanjutnya oleh petugas kebersihan.
4.      Pisau bedah yang digunakan untuk membedah specimen,  pisau bedah masih bisa digunakan, asalkan melakukan perawatan yang baik, sebelum disimpan harus di cuci besih, ataupun di rebus, direndam dalam air panas untuk menjaga keseterilannya. ( selagi masih bisa di seterilkan) 
5.      Papan bedah  juga masih bisa digunakan selagi belum rusak dan berjamur, kebersihannya terjaga. Pencucian papan bedah menggunakan air ( air mengalir) untuk menghilangkan darah yang menempel pada papan, jika perlu diberi sabun dan di bros.
6.      Jarum suntik  dan jarum penjahit yang digunakan harus dibuang, jarum suntik  dan jarum penjahit adalah sampah medis yang tajam, Teknik pengelolaan limbah medis tajam dapat dilakukan dengan : Safety Box. Alternative 1 : Jarum dan syringe langsung dimasukkan ke dalam safety box pada setiap selesai satu penyuntikan; setelah penuh, safety box dan isinya dikirim ke sarana kesehatan lain yang memiliki incinerator dengan suhu pembakaran minimal 1000C atau memiliki alat pemusnah carbonizer. Alternatif 2 : Jarum dan syringe langsung dimasukkan ke dalam safety box pada setiap selesai satu penyuntikan; Setelah penuh, safety box dan isinya ditanam di dalam sumur galian yang kedap air (silo) atau needle pit yang lokasinya didalam area unit  pelayanan kesehatan
7.      Isi perut Aves dibuang, sebaiknya di kubur kedalam tanah, agar dimakan oleh mahluk pengurai. Dan selanjutnya bisa digunakan sebagai pupuk tanaman.
8.      Aves yang masih memiliki darah diberisihkan dengan air yang mengalir.






Dari ulasan tersebut, saya ingin bertanya
1.      Mengapa alat tersebut dimusnahkan?
2.      Apakah setiap alat yang rusak, harus dilakukan pemusnahan?
3.      Jika anda kepala lab, kemudian lab anda memiliki dana untuk pengadaan alat, sedang alat yang rusak berpotensi untuk diperbaiki, apa yang anda lakukan?

PENGELOLAAN LABORATURIUM

BASIC LABORATORY SKILLS ( PELAKSANAAN) Laboratorium adalah tempat belajar mengajar melalui metode pratikum yang dapat menghasilkan pen...