Kamis, 08 Februari 2018

PENGELOLAAN LABORATURIUM IPA

SISTEM MANAJEMEN LABORATURIUM IPA

1.    Manajemen Laboratorium
Pengelolaan laboratorium (Managemen Laboratory) adalah salah satu usaha dalam  mengelola suatu laboratorium. Laboratorium yang baik harus dilengkapi dengan berbagai fasilitas untuk memudahkan pemakaian laboratorium dalam melakukan aktivitasnya. Suatu laboratorium dapat dikelola dengan baik sangat ditentukan oleh beberapa faktor yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya.
Beberapa alat-alat laboratorium yang canggih, dengan staf profesional yang terampil belum tentu dapat berfungsi dengan baik, jika tidak didukung oleh adanya manajemen laboratorium yang baik. Oleh karena itu manajemen laboratorium adalah suatu bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan laboratorium sehari-hari.   
Pentingnya pengelolaan laboratorium mencakup beberapa hal yakni:
a.             Memelihara kelancaran penggunaan laboratorium
b.             Menyediakan alat atau bahan yang diperlukan
c.              Membuat format pinjaman
d.             Pendokumentasian atau pengarsipan
e.             Peningkatan mutu laboratorium

2.             Manajemen Operasional Laboratorium. 
Untuk mengelola laboratorium yang baik harus dipahami perangkat-perangkat apa saja yang dikelola dalam manajemen laboratorium klinik yaitu:
a.             Tata ruang
b.             Alat yang baik dan terkalibrasi
c.              Infrastruktur 
d.             Administrasi laboratorium
e.             Organisasi laboratorium
f.               Fasilitas pendanaan
g.             Inventarisasi dan keamanan
h.             Pengamanan laboratorium
i.               Disiplin yang tinggi keterampilan SDM
j.               Peraturan umum
k.              Penanganan masalah umum
l.               Jenis-jenis pekerjaan

Semua perangkat diatas, jika dikelola secara optimal akan mendukung terwujudnya penerapan manajemen laboratorium yang baik. Dengan demikian manajemen laboratorium dapat dipahami sebagai suatu tindakan pengelolaan yang kompleks dan terarah, sejak dari perencanaan tata ruang sampai dengan perencanaan semua perangkat penunjang lainnya demi terpenuhinya kualitas operasional sebuah laboratorium.

3.             Rincian Kegiatan Masing-Masing Perangkat Manajemen Laboratorium
Kegiatan yang mencakup perangkat Manajemen Laboratorium ini terdiri dari tata ruang, alat yang berfungsi dan terkalibrasi, infrastruktur laboratorium, administrasi laboratorium, dan inventarisasi dan keamanan peralatan laboratorium.

a.             Tata Ruang
Laboratorium harus ditata sedemikian rupa hingga dapat berfungsi dengan baik. Tata ruang yang sempurna, harus dimulai sejak perencanaan gedung sampai pada pelaksanaan pembangunan. Tata ruang yang baik mempunyai: 
1.             pintu masuk (in)
2.             pintu keluar (out)
3.             pintu darurat (emergency-exit)
4.             ruang persiapan (preparation-room)
5.             ruang peralatan (equipment-room)
6.             ruang  penangas (fume-hood)  
7.             ruang penyimpanan (storage - room)
8.             ruang staf (staff-room)
9.             ruang teknisi (technician-room)
10.         ruang bekerja (activity-room)
11.         ruang istirahat/ibadah   
12.         ruang prasarana kebersihan  
13.         ruang toilet  
14.         lemari praktikan (locker)
15.         lemari gelas (glass-rack)
16.         lemari alat-alat optik (opticals-rack)
17.         pintu jendela diberi kawat kasa, agar serangga dan burung tidak dapat masuk
18.         fan (untuk dehumidifier)
19.         ruang ber-AC untuk alat-alat yang memerlukan persyaratan tertentu.  

b.             Alat yang Berfungsi dan Terkalibrasi 
Pengenalan terhadap peralatan laboratorium merupakan kewajiban bagi setiap petugas laboratorium, terutama mereka yang akan mengoperasikan peralatan tersebut. Setiap alat yang akan dioperasikan itu harus benar-benar dalam kondisi:
1.             siap untuk dipakai (ready for use)  
2.             bersih
3.             berfungsi dengan baik
4.             terkalibrasi  

Peralatan yang ada juga harus disertai dengan buku petunjuk pengoperasian (manual operation).  Hal ini untuk mengantisipasi terjadinya kerusakan, dimana buku manual merupakan acuan untuk perbaikan seperlunya. Teknisi laboratorium yang ada harus senantiasa berada di tempat, karena setiap kali peralatan dioperasikan ada kemungkinan alat tidak berfungsi dengan baik.
Beberapa peralatan yang dimiliki harus disusun secara teratur pada tempat tertentu, berupa rak atau meja yang disediakan. Peralatan digunakan untuk melakukan suatu kegiatan pendidikan, penelitian dan pelayanan masyarakat atau studi tertentu. Alat-alat ini harus selalu siap pakai, agar sewaktu-waktu dapat digunakan.  
Peralatan laboratorium sebaiknya dikelompokkan berdasarkan penggunaannya. Setelah selesai digunakan, harus segera dibersihkan kembali dan disusun seperti semula. Semua alatalat ini sebaiknya diberi penutup (cover) misalnya plastik transparan, terutama bagi alat-alat yang memang memerlukannya. Alat-alat yang tidak ada penutupnya akan cepat berdebu, kotor dan akhirnya dapat merusak alat yang bersangkutan. Berikut ini beberapa cara merawat alat dan perangkat di Laboratorium.  
1.             Alat-alat gelas (Glassware) 
 Alat-alat gelas harus dalam keadaan bersih, apalagi peralatan gelas yang sering dipakai. Untuk alat-alat gelas yang memerlukan sterilisasi, sebaiknya disterilisasi sebelum dipakai. Semua alat-alat gelas ini seharusnya disimpan pada lemari khusus.
2.             Bahan-bahan kimia
      Untuk bahan-bahan kimia yang bersifat asam dan alkalis, sebaiknya ditempatkan pada ruang/kamar fume (untuk mengeluarkan gas-gas yang mungkin timbul). Demikian juga dengan ahan-bahan yang mudah menguap. Ruangan fume perlu dilengkapi fan, agar udara/uap yang ada dapat terhembus keluar. Bahan-bahan kimia yang ditempatkan dalam botol berwarna coklat/gelap, tidak boleh langsung terkena sinar matahari dan sebaiknya ditempatkan pada lemari khusus. 
3.             Alat-alat optik 
Alat-alat optik seperti mikroskop harus disimpan pada tempat yang kering dan tidak lembab. Kelembaban yang tinggi akan menyebabkan lensa berjamur. Jamur ini yang menyebabkan kerusakan mikroskop. Sebagai tindakan pencegahan, mikroskop harus ditempatkan dalam kotak yang dilengkapi dengan silica-gel, dan dalam kondisi yang bersih. Mikroskop harus disimpan di dalam lemari khusus yang kelembabannya terkendali. Lemari tersebut biasanya diberi lampu pijar 15-20 watt, agar ruang selalu panas sehingga dapat mengurangi kelembaban udara (dehumidifier-air). Alat-alat optik lainnya seperti lensa pembesar (loupe), alat kamera (microphoto-camera), digital camera, juga dapat ditempatkan pada lemari khusus yang tidak lembab atau dalam alat desiccator . 

c.              Infrastruktur Laboratorium 
          Infrastruktur laboratorium ini meliputi sarana utama dan sarana pendukung. 
1.           Sarana Utama
 Mencakup bahasan tentang lokasi laboratorium, konstruksi laboratorium dan sarana lain, termasuk pintu utama, pintu darurat, jenis meja kerja/pelataran, jenis atap, jenis dinding, jenis lantai, jenis pintu, jenis lampu yang dipakai, kamar penangas, jenis pembuangan limbah, jenis ventilasi, jenis AC, jenis tempat penyimpanan, jenis lemari bahan kimia, jenis alat optik, jenis timbangan dan instrumen yang lain, kondisi laboratorium, dan sebagainya.
2.            Sarana Pendukung
 Mencakup bahasan tentang ketersediaan energi listrik, gas, air, alat komunikasi, dan pendukung keselamatan kerja seperti pemadam kebakaran, hidran dsb.  

d.             Administrasi Laboratorium
Administrasi laboratorium meliputi segala kegiatan administrasi yang ada di laboratorium dengan memperhatikan beberapa hal-hal penting yang berpengaruh pada proses di laboratorium klinik.  
1.             Inventarisasi peralatan laboratorium  
2.  Daftar kebutuhan alat baru, alat tambahan, alat yang rusak, alat yang dipinjam/dikembalikan 
3.             Surat masuk dan surat keluar 
4.             Daftar             pemakai          laboratorium,   sesuai dengan            jadwal kegiatan
praktikum/penelitian 
5.             Daftar inventarisasi bahan kimia dan non-kimia, bahan gelas dan sebagainya 
6.             Daftar inventarisasi alat-alat meubelair (kursi, meja, bangku, lemari dsb)
7.          Sistem evaluasi dan pelaporan untuk kelancaran administrasi yang baik. Sebaiknya tiap laboratorium memberikan pelaporan secara periodik kepada
Atasannya/Pejabat yang ditunjuk. 

Evaluasi dan pelaporan dari kegiatan masing-masing diatas dapat dilakukan secara teratur setiap semester atau sekali dalam setahun, tergantung pada kesiapan yang ada agar semua kegiatan laboratorium dapat dipantau dan sekaligus dapat digunakan untuk perencanaan laboratorium (misalnya; penambahan alat-alat baru, rencana pembiayaan/ dana laboratorium yang diperlukan, perbaikan sarana & prasarana yang ada, dsb). Kegiatan administrasi ini merupakan kegiatan rutin yang berkesinambungan, karenanya perlu dipersiapkan dan dilaksanakan secara berkala dengan baik dan teratur. 

e.             Inventarisasi dan Keamanan Laboratorium 
Semua kegiatan inventarisasi harus memuat sumber dana darimana alat-alat ini  diperoleh/ dibeli misalnya: dari suatu project tertentu, pemberian dari Luar Negeri seperti Pemerintah Jepang (JICA), Proyek Hibah, dll.
Keamanan/security peralatan laboratorium ditujukan agar peralatan laboratorium dengan aman tetap berada di laboratorium. Jika peralatan dipinjam harus ada jaminan dari si peminjam. Jika hilang atau dicuri, harus dilaporkan kepada kepala laboratorium. Beberapa tujuan keamanan peralatan laboratorium yang ingin dicapai dari inventarisasi dan keamanan laboratorium klinik harus diperhatikan, hal-hal yang harus diperhatikan salah satunya:
1.             Mencegah kehilangan dan penyalahgunaan
2.             Mengurangi biaya-biaya operasional
3.             Meningkatkan proses pekerjaan dan hasilnya
4.             Meningkatkan kualitas kerja
5.             Mengurangi resiko kehilangan
6.             Mencegah pemakaian yang berlebihan
7.             Meningkatkan kerjasama

Berikut ini akan diberikan beberapa petunjuk umum pengamanan laboratorium, agar setiap Analis/ATLM/Pekerja Laboratorium/Asisten Laboratorium dapat bekerja dengan aman.   Prinsip Umum Pengamanan Laboratorium
              a). Tanggung jawab 
    Kepala/Pimpinan Laboratorium, Petugas Laboratorium termasuk asisten Laboratorium bertanggung jawab penuh terhadap segala kecelakaan yang mungkin timbul. Oleh sebab itu, Kepala Laboratorium seharusnya dijabat oleh orang yang kompeten di bidangnya, termasuk juga teknisi dan laborannya.
b). Kerapian
   Semua koridor, jalan keluar dan alat pemadam api harus bebas dari hambatan seperti botol-botol, dan kotak-kotak. Lantai harus dalam keadaan bersih dan bebas minyak/air dan material lainnya yang dapat menyebabkan lantai licin. Semua alat-alat dan reagensia bahan kimia yang telah digunakan harus dikembalikan ke tempat semula seperti sebelum digunakan.
c). Kebersihan
          Kebersihan dalam laboratorium menjadi tanggung jawab bersama pengguna laboratorium.
d). Konsentrasi terhadap pekerjaan
      Setiap pengguna laboratorium harus memiliki konsentrasi penuh terhadap pekerjaannya masing-masing, tidak boleh mengganggu pekerjaan orang lain, dan tidak boleh meninggalkan percobaan yang memerlukan perhatian penuh.
e). Pertolongan pertama (First - Aid) 
 Semua kecelakaan bagaimanapun ringannya, harus ditangani di tempat dengan memberikan pertolongan pertama. Misalnya, bila mata terpercik harus segera dialiri air dalam jumlah yang banyak. Jika tidak bias/tidak memungkinkan, segera panggil dokter. Jadi setiap laboratorium harus memiliki kotak P3K, dan selalu mengontrol isi yang seharusnya ada di dalam kotak P3K tersebut.
f). Pakaian
        Saat bekerja di laboratorium dilarang memakai baju longgar, kancing terbuka, berlengan panjang, kalung teruntai, anting besar dan lain-lain yang mungkin dapat tersangkut oleh mesin/alat laboratorium ketika bekerja dengan mesin-mesin/alat-alat yang bergerak. Selain pakaian, rambut harus diikat rapi agar terhindar dari mesin-mesin/alat-alat Laboratorium yang bergerak.
g). Berlari di Laboratorium 
   Tidak dibenarkan berlari di laboratorium atau di koridor, tetapi berjalanlah di tengah koridor agar menghindari tabrakan dengan orang lain dari pintu yang hendak masuk/keluar.
h). Pintu-pintu
 Pintu-pintu harus dilengkapi dengan jendela pengintip untuk mencegah terjadinya kecelakaan (misalnya: kebakaran).
i). Alat-alat
       Alat-alat seharusnya ditempatkan di tengah meja, agar alat-alat tersebut tidak jatuh ke lantai. Selain itu, peralatan sebaiknya juga ditempatkan dekat dengan sumber listrik, jika memang peralatan tersebut memerlukan listrik. Demikian juga untuk alat-alat yang menggunakan air ataupun gas sebagai sarana pendukung.
      Berikut ini cara penanganan alat-alat di Laboratorium:
1.             Alat-alat kaca/gelas
 Bekerja dengan alat-alat kaca perlu berhati-hati. Gelas beaker, flask , test tube , erlenmeyer , dan sebagainya sebelum dipanaskan harus benar-benar diteliti dan hati-hati, misalnya apakah gelas tersebut retak/tidak retak, rusak/sumbing. Bila terdapat gejala seperti ini, barang-barang tersebut sebaiknya tidak dipakai.
2.             Memotong pipa kaca/batangan kaca
          Jika hendak memotong pipa kaca harus menggunakan sarung tangan. Pada bekas pecahan pipa kaca, permukaannya dilicinkan dengan api lalu diberi pelumas/gemuk silikon, kemudian masukkan ke sumbat gabus/karet.
3.             Mencabut pipa kaca
         Mencabut pipa kaca dari gabus dan sumbat harus dilakukan dengan hati-hati.
Apabila sukar mencabutnya, potong dan belah gabus itu. Untuk memperlonggar,
lebih baik digunakan pelubang gabus yang ukurannya telah cocok, kemudian licinkan dengan meminyakinya dan kemudian putar perlahan-lahan melalui sumbat. Cara ini juga digunakan untuk memasukkan pipa kaca ke dalam sumbat. Jangan gunakan alat-alat kaca yang sumbing atau retak. Sebelum dibuang sebaiknya dicuci terlebih dahulu untuk memastikan kerusakan.
4.             Label semua bejana
          Pemberian label pada bejana seperti botol, flask , test tube dan lain-lain seharusnya diberi identitas yang jelas. Jika tidak jelas, lakukan pengetesan isi bejana yang belum diketahui secara pasti dengan hati-hati secara terpisah, kemudian dibuang melalui cara yang sesuai dengan jenis zat kimia tersebut. Biasakanlah menulis tanggal, nama orang yang membuat, konsentrasi, nama dan bahayanya dari zat-zat kimia yang ada dalam bejana.
5.             Suplai gas
          Tabung-tabung gas harus ditangani dengan hati-hati walaupun berisi atau kosong. Penyimpanan sebaiknya di tempat yang sejuk dan terhindar dari tempat yang panas. Kran gas harus selalu tertutup jika tidak dipakai, demikian juga dengan kran pengatur (regulator) . Alat-alat yang berhubungan dengan tabung gas harus memakai "Safety Use" (alat pengaman jika terjadi tekanan yang kuat). Saat ini sudah beredar banyak jenis pengaman seperti selang anti bocor dan lain-lain.  Sediaan gas untuk alat-alat pembakar harus dimatikan pada kran utama yang ada di meja kerja, tidak hanya pada kran, tapi juga pada alat yang dipakai. Kran untuk masing-masing laboratorium harus dipasang di luar laboratorium, pada tempat yang mudah dicapai dan diberi label yang jelas serta diwarnai dengan wama yang spesifik.
6.             Penggunaan pipet
 Gunakan pipet yang dilengkapi pompa pengisap (pipet pump). Sekali-kali jangan pernah menggunakan mulut! Ketika memasukkan pipet kedalam pompa pengisap harus dilakukan dengan hati-hati supaya pipet tidak pecah dan pompa pengisap tidak rusak. Jangan sampai ada cairan yang masuk ke pompa pengisap, karena akan merusak pompa tersebut.
7.             Melepaskan tutup kaca yang kencang (seret)
 Melepaskan tutup kaca yang kencang (seret) dengan cara mengetok bergantiganti sisi tutup botol yang ketat tersebut, dengan sepotong kayu, sambil menekannya dengan ibu jari pada sisi yang berlainan/berlawanan dengan ketokan. Jangan mencoba untuk membuka tutup botol secara paksa, lebih-lebih jika isinya berbahaya atau mudah meledak. Di bawah pengawasan
Kepala/Pimpinan Laboratorium, panaskanlah leher botol dengan air panas secara perlahan-lahan, lalu coba membukanya. Jika gagal juga goreslah sekeliling leher botol dengan alat pemotong kaca untuk dipatahkan. Lalu pindahkan isi botol ke dalam botol yang baru.
8.             Kebakaran
 Untuk menanggulangi bahaya kebakaran, perlu diketahui klasifikasi bahan dan alat pemadam kebakaran yang sesuai. Secara umum bahan yang mudah terbakar dapat diklasifikasikan.

f.               Organisasi Laboratorium              
Organisasi laboratorium meliputi; struktur organisasi, deskripsi pekerjaan, serta susunan personalia yang mengelola laboratorium tersebut. Penanggung jawab tertinggi organisasi di dalam laboratorium adalah Kepala/Pimpinan Laboratorium. Kepala/Pimpinan Laboratorium  bertanggung jawab terhadap semua kegiatan yang dilakukan dan juga bertanggung jawab terhadap seluruh peralatan yang ada.
Para anggota laboratorium yang berada di bawah Kepala/Pimpinan Laboratorium juga harus sepenuhnya bertanggung jawab terhadap semua pekerjaan yang dibebankan padanya.
Untuk mengantisipasi dan menangani kerusakan peralatan diperlukan  teknisi yang memadai.

g.             Fasilitas Pendanaan 
Ketersediaan dana sangat diperlukan dalam operasional laboratorium. Tanpa adanya dana yang cukup, kegiatan operasional laboratorium akan berjalan tersendat-sendat, bahkan mungkin tidak dapat beroperasi dengan baik. Kebutuhan anggaran rutin ini harus selalu direncanakan dan dievaluasi secara rutin agar dapat ditindaklanjuti sehingga kegiatan operasional laboratorium dapat berjalan dengan baik dan tujuan organisasi dapat tercapai/terpenuhi.

h.             Disiplin Tinggi 
Pengelola laboratorium harus menerapkan disiplin yang tinggi pada seluruh pengguna laboratorium agar terwujud efisiensi kerja yang tinggi. Kedisiplinan sangat dipengaruhi oleh pola kebiasaan dan perilaku dari manusia itu sendiri. Oleh sebab itu setiap pengguna laboratorium harus menyadari tugas, wewenang dan fungsinya. Sesama pengguna laboratorium harus ada kerjasama yang baik, sehingga setiap kesulitan dapat dipecahkan/diselesaikan bersama.

i.               Keterampilan 
Pengelola laboratorium harus meningkatkan keterampilan semua tenaga laboran/teknisi. Peningkatan keterampilan dapat diperoleh melalui pendidikan tambahan seperti pendidikan keterampilan khusus, pelatihan (workshop) maupun magang di tempat lain. Peningkatan keterampilan ini juga dapat dilakukan di dalam laboratorium maupun antar laboratorium atau melalui bimbingan dari Atasan terkait atau dokter Penanggung Jawab apabila dibutuhkan.

j.               Peraturan Umum 
Beberapa peraturan umum untuk menjamin kelancaran jalannya pekerjaan di laboratorium, dirangkum sebagai berikut:
1.             Dilarang makan/minum di dalam laboratorium
2.             Dilarang merokok, karena mengandung potensi bahaya seperti:
a.             kontaminasi melalui tangan
b.             ada api/uap/gas yang bocor/mudah terbakar
c.              uap/gas beracun, akan terhisap melalui pernafasan
3.             Dilarang meludah, akan menyebabkan terjadinya kontaminasi
4.             Jangan panik menghadapi bahaya kebakaran, gempa, dan sebagainya.
5.             Dilarang mencoba peralatan laboratorium tanpa diketahui cara penggunaannya. Sebaiknya tanyakan pada orang yang kompeten.
6.             Diharuskan menulis label yang lengkap, terutama pada bahan-bahan kimia. 
7.             Dilarang mengisap/menyedot dengan mulut segala bentuk pipet. Semua alat pipet harus menggunakan bola karet pengisap ( pipet - pump ).
8.             Diharuskan memakai baju laboratorium, dan juga sarung tangan dan gogles , terutama sewaktu menuang bahan-bahan kimia yang berbahaya.
9.             Beberapa peraturan lainnya yang spesifik, terutama dalam pemakaian sinar X, sinar Laser, alat-alat sinar UV, Atomic Absorption , Flamephoto-meter , Bacteriological Glove Box with UV light , dan sebagainya, harus benar-benar dipatuhi. Semua peraturan tersebut di atas ditujukan untuk keselamatan kerja di laboratorium. 

k.             Penanganan Masalah Umum
1.             Mencampur zat-zat kimia
 Jangan campur zat kimia tanpa mengetahui sifat reaksinya. Jika belum tahu segera tanyakan pada orang yang kompeten
2.             Zat-zat baru atau kurang diketahui
 Demi keamanan laboratorium, berkonsultasilah sebelum menggunakan zat-zat kimia baru atau yang kurang diketahui. Semua zat-zat kimia dapat menimbulkan resiko yang tidak dikehendaki.
3.             Membuang material-material yang berbahaya
 Sebelum membuang material-material yang berbahaya harus diketahui resiko yang mungkin terjadi. Oleh karena itu pastikan bahwa cara membuangnya tidak menimbulkan bahaya. Jika tidak tahu tanyakan pada orang yang kompeten. Demikian juga terhadap air buangan dari laboratorium. Sebaiknya harus ada bak penampung khusus, jangan dibuang begitu saja karena air buangan mengandung bahan berbahaya yang menimbulkan pencemaran. Air buangan harus di” treatment”, antara lain dengan cara netralisasi sebelum dibuang ke lingkungan.
4.             Tumpahan
          Tumpahan asam diencerkan dahulu dengan air dan dinetralkan dengan CaC03 atau soda abu, dan untuk basa dengan air dan dinetralisir dengan asam encer. Setelah itu dipel dan pastikan kain pel bebas dari asam atau alkali. Tumpahan minyak, harus ditaburi dengan pasir, kemudian disapu dan dimasukkan dalam tong yang terbuat dari logam dan ditutup rapat. 
Catatan: Penanganan terhadap lain - lain masalah yang belum diketahui, sebaiknya berkonsultasi kepada    ahlinya, sebelum mengambil tindakan. lngat keselamatan lebih diutamakan dari yang lainnya.

l.               Jenis Pekerjaan 
Berbagai pekerjaan laboratorium seperti praktik, penelitian, dan layanan umum harus didiskusikan sebelumnya dengan Kepala/Pimpinan Laboratorium. Keterlibatan Kepala/Pimpinan Laboratorium akan membantu dalam cara pelaksanaan dan pemahaman jenis pekerjaan di laboratorium klinik yaitu;
1.    Meningkatkan efisiensi penggunaan bahan-bahan kimia, air, listrik, gas dan alat-alat laboratorium.
2.             Meningkatkan efisiensi biaya (operasional cost).
3.   Meningkatkan efisiensi tenaga dan waktu, baik dari pengguna maupun pengelola laboratorium
4.  Meningkatkan kualitas dan ketrampilan pengelola laboratorium dan Petugas Laboratorium/laboran.
5.             Baik pengelola laboratorium dan teknisis Laboratorium/Laboran harus dapat bekerja sama dengan baik sebagai satu “Team-Work ”. Bekerja dengan satu team, jauh lebih baik dari pada bekerja secara sendiri/mandiri ” .
6.             Meningkatkan pendapatan (income) dari laboratorium yang bersangkutan. 

Sistem pengelolaan operasional laboratorium yang baik dan sesuai dengan situasi kondisi setempat dibutuhkan agar semua kegiatan yang dilakukan di dalam laboratorium dapat berjalan dengan lancar, Untuk mencapai hal tersebut, beberapa hal yang telah dijelaskan di atas, perlu diperhatikan. Peran Kepala/Pimpinan Laboratorium sangat penting dalam menerapkan proses manajemen pengelolaan laboratorium, termasuk dukungan keterampilan dari segala elemen yang ada di dalamnya.

Dari Artikel di atas saya membuat beberapa rumusan permasalahan yaitu :
1.  Jelaskan bagaimana Anda mengelola Alat Laboratorium di tempat Anda bekerja saat ini dengan kondisi yang terbatas?
2.   Seandainya di sekolah tempat anda bekerja, gurunya terbatas, sehingga untuk menerapkan sistem manajemen (struktur organasisasi labor) itu terbatas, bagaimana cara mengatasinya ?
3.   Pengalaman yang ada kedisplinan tinggi itu sangat sulit diterapkan, dan dalam manajemen pengelolaan labor sangat dibutuhkan, Bagaimana cara menumbuhkan sikap kedisplinan tinggi ?

13 komentar:

  1. Mencoba menanggapi pertanyaan pertama. Cara yg saya lakukan mengikuti prosedur yg tlah d buat skolah sblm nya. Hanya saja dlam penggunaan alat perlu adanya pengawasan dan mengatur jadwal plaksanaan pratikum dgn tertib.

    BalasHapus
  2. Assalamualaikum
    Saya akan menjawab pertanyaan no 1. Cara saya mengola alat-alat laboratorium yang masih terbatas yaitu dengan cara mengikuti aturan-aturan yang telah di tetapkan. Kemudian dalam kegiatan praktikum alat-alat yang terbatas ini harus di maksimalkan penggunaannya. Selain itu sebagai guru IPA saya harus kreatif dan inovatif untuk mencari sumber lain yang bisa digunakan dalam proses praktikum. Misalnya karena keterbatasan alat-alat labor, guru bisa membuat laboratorium virtual.

    BalasHapus
  3. Assalualaikum, saya akan mencoba menjawab nomr 2
    Apabila sdm di sekolah tersebut masih terbatas, maka untuk menerapkan sistem manajemen labor, dengan memilih orang-orang yang mampu bertanggung jawab, atau memiliki kemampuan yang mendekati atau pengalaman yang mumpuni, dan melibatkan siswa untuk ikut serta berperan dalam menjaga laboratorium agar berfungsi sebagaimana mestinya.

    BalasHapus
  4. Assalamualaikum wr.wb
    Saya mencoba menanggapi pertanyaan no 1.
    Jelaskan bagaimana Anda mengelola Alat Laboratorium di tempat Anda bekerja saat ini dengan kondisi yang terbatas?
    Dngn keterbatasan allah guru harus d tuntut kreatif dlm mengelola laboratorium dan menggunakan alat tersebut dengan semaksimal mungkin.bisa dengan menggunakan alam sekitar dan lab virtual
    Terima kasih

    BalasHapus
  5. saya akan menyikapin perrtanyaan no 3.?
    cara menumbuhkan sikap kedisplinan tinggi yaitu bisa dengan cara kita melengkapi dengan alat Cctv di dalam dalam supaya dengan ada terkawasi dg cct otomatis siswa yg melakukan pratikum di labor takut bertindak yang luar dari tata tertib labor itu.

    BalasHapus
  6. Jelaskan bagaimana Anda mengelola Alat Laboratorium di tempat Anda bekerja saat ini dengan kondisi yang terbatas?
    menurut pendapat saya, itu semua tergantung pada kreativitas guru dalam memanfaatkan alat yang ada dilabor serta bisa menggunakan tambahan media elektronik yang ada.

    BalasHapus
  7. menanggapi pertanyaan no.2 mengenai "Seandainya di sekolah tempat anda bekerja, gurunya terbatas, sehingga untuk menerapkan sistem manajemen (struktur organasisasi labor) itu terbatas, bagaimana cara mengatasinya ?"

    menurut saya, jika memang guru pada sekolah tersebut terbatas untuk membuat suatu sistem manajemen labor pada pembuatan struktur organisasinya, pihak sekolah bisa memberikan amanah kepada orang-orang yang memang dipercaya ahli atau orang-orang yang memiliki banyak atau sedikitnya pengetahuan dan pengalaman dalam mengelola labor. dan guru-guru yang ada pun harus terus mengupgrade ilmu nya untuk selanjutnya bisa mengelola labor tsb lebih baik lagi.

    terima kasih

    BalasHapus
  8. Pengalaman yang ada kedisplinan tinggi itu sangat sulit diterapkan, dan dalam manajemen pengelolaan labor sangat dibutuhkan, Bagaimana cara menumbuhkan sikap kedisplinan tinggi ?
    dalam hal ini tentu dibuatkan peraturan dan SOP yang menimbulkan sikap disiplin serta memberikan sanksi kepada pelanggar.kemudian sebagai seorang pemimpin baik kepala sekolah maupun kepala labor beserta jajaran yang lain juga harus menunjukkan sikap disiplin tersebut agar menjadi contoh bagi yang lain

    BalasHapus
  9. Seandainya di sekolah tempat anda bekerja, gurunya terbatas, sehingga untuk menerapkan sistem manajemen (struktur organasisasi labor) itu terbatas, bagaimana cara mengatasinya ?
    jikalau keterbatasan seperti itu mampu di jankan oleh pihak sekolah lebih baik, misal memiliki laboran sendiri. namun jika hal itu kurang pas untuk pengelola labor bisa di mintakan bantu kepada tenaga ahli dari luar sekolah

    BalasHapus
  10. Sya menanggapi pertanyaan no 3, kembali lagi pada tujuan penggunaan laboratorium IPA yaitu menuhkan kedisiplinan dlam mematuhi aturan keselamatan kerja.
    Adapun upaya yg bisa dilakukan guru misalnya: memberlakukan tata tertib dengan tegas dan jelas,guru harus mampu menjadi contoh yang baik. 😊

    BalasHapus
  11. Mencoba menanggapi pertanyaan nomor 3,Bagaimana cara menumbuhkan sikap kedisiplinan tinggi?
    sikap disiplin memang sulit untuk diterapkan, namun apabila kita bersungguh-sungguh ingin menerapkannya, kita pasti bisa dengan berusaha dan terus berusaha serta berkeyakinan bahwa sikap disiplin sangat bermanfaat bukan hanya untuk diri pribadi, tetapi juga untuk semua orang.

    BalasHapus
  12. Saya akan mencoba menjawab pertanyaan no 1 yaitu, Jelaskan bagaimana Anda mengelola Alat Laboratorium di tempat Anda bekerja saat ini dengan kondisi yang terbatas? Dengan memisahkan antara alat yang dalam kondisi baik dengan alat yang rusak dan alat yang harus diservice, alat yang dalam kondisi baik ditata dalam lemari kaca agar mudah terlihat

    BalasHapus
  13. Menanggapi pertanyyan nomor 2 untuk struktur makan dapat dilakukan fungsi ganda daro seorang guru atau lab contohnya kepala merangkap menjadi tenaga laboran atau sebaliknya

    BalasHapus

PENGELOLAAN LABORATURIUM

BASIC LABORATORY SKILLS ( PELAKSANAAN) Laboratorium adalah tempat belajar mengajar melalui metode pratikum yang dapat menghasilkan pen...